~DWI SEPTIANI~

~DWI SEPTIANI~

Senin, 05 Mei 2014

PENGERTIAN DAN PENGARUH ADANYA PERUBAHAN HAK KEPEMILIKAN DAN BEBERAPA HAL YANG MENYEBABKAN ADANYA PENGARUH TERHADAP NERACA KONSOLIDASI


A.  Konsolidasi Perubahan-Perubahan Dalam Hak Pemilikan.
Hubungan antara perusahaan induk dan perusahaan anak lebih mudah dicapai melalui pemilikan saham, dari pada dengan cara merger atau konsolidasi, terutama bila dilihat dari segi dana yang diperlukan. Melalui kepemilikan saham ini, hak kontrol terhadap perusahaan anak dapat dilakukan secara bertahap, berarti hak kepemilikan saham perusahaan anak itu berubah-ubah.
Hal ini mengakibatkan timbulnya persoalan-persoalan khusus, yaitu :
·         Di dalam penyusunan neraca konsilidasi.
·         Perubahan saldo rekening investasi saham-saham perusahaan anak, dikarenakan bertambah atau berkurangnya jumlah relative (prosentage) pemilikan saham dari jumlah saham-saham perusahaan anak.

B.  Pengertian dan Pengaruh Adanya Perubahan Hak Pemilikan.
Penggabungan usaha merupakan usaha untuk menggabungkan suatu perusahaan dengan satu atau lebih perusahaan lain ke dalam satu kesatuan ekonomi.

Faktor-faktor untuk menentukan besarnya kontribusi dari masing-masing perusahaan yang mengadakan penggabungan usaha, adalah:
·        Dengan mengeluarkan satu jenis modal saham
·        Dengan mengeluarkan dua atau lebih jenis modal saham.

Pengaruh aktivitas-aktivitas tersebut pada perusahaan induk tergantung pada harga saat saham tambahan tersebut dijual atau saham diperoleh kembali dengan cara dibeli, dan pada saat perusahaan induk dilibatkan secara langsung dalam transaksi-transaksi dengan perusahaan anak.

Hal-hal yang menyebabkan perubahan hak kepemilikan dan pengaruhnya terhadap neraca konsolidasi:
1.  Pembelian saham-saham perusahaan anak dilakukan lebih dari satu kali, akan tetapi hak kontrol diperoleh sejak saat pembelian saham tahap pertama.
2.  Pembelian saham-saham perusahaan anak dilakukan lebih dari satu kali, dan hak kontrol diperoleh baru sesudah bebarapa tahap pembelian saham.
3. Pembelian dan penjualan kembali sebagian dari saham perusahaan anak, yang dimiliki oleh perusahaan induk.
4.  Emisi saham dan penarikan kembali saham-saham perusahaan anak yang mempengaruhi hak pemilikan perusahaan induk.
5. Transaksi-transaksi saham yang ditarik dari peredaran (treasury stock) pada perusahaan anak.

C.  Perlakuan akuntansi untuk pembelian saham perusahaan anak yang dilakukan beberapa kali.
Perusahaan yang telah mempunyai hak kontrol pada perusahaan lain terus menambah hak pemilikannya dengan cara membeli saham-saham perusahaan lain tersebut dari para pemegang saham lainnya. Apabila hal ini terjadi, maka akan  mengakibatkan perubahan di dalam saldo rekening investasi saham, melainkan juga perubahan terhadap rekening Laba Yang Ditahan (LYD) pada buku-buku perusahaan induk. Tetapi seberapa jauh perubahan-perubahan yang harus diakui sangat dipengaruhi oleh pencatatan yang dipakai terhadap investasi saham-saham perusahaan anak.

D. Metode harga perolehan (cost method).
Apabila metode harga perolehan dipakai, pengaruh adanya perubahan kepemilikan saham tersebut di dalam pencatatan pada buku-buku perusahaan induk yaitu berupa kenaikan saldo rekening investasi, maka eliminasi terhadap modal saham dilakukan sesuai dengan hak pemilikan saham.

E.  Perlakuan akuntansi untuk pembelian dan penjualan kembali sebagian dari saham perusahaan anak yang dimiliki oleh perusahaan induk.
Meskipun tujuan pemilikan saham-saham pada perusahaan anak tidak untuk diperjualbelikan, akan tetapi dalam keadaan tertentu perusahaan induk dapat menjual kembali sebagian dari saham-saham perusahaan anak yang telah dimilikinya. Apabila hal ini terjadi, berarti akan mengurangi hak kepemilikannya pada perusahaan anak dan juga nilai investasinya.

F.   Perlakuan akuntansi untuk emisi saham dan penarikan kembali saham-saham perusahaan anak yang mempengaruhi hak pemilikan perusahaan induk.
Hak kepemilikan saham oleh perusahaan induk pada perusahaan anak bisa berubah-ubah, bukan saja disebabkan oleh transaksi pembelian dan penjualan saham-saham yang bersangkutan oleh perusahaan induk melainkan juga transaksi modal/saham yang terjadi pada perusahaan anak. Transaksi-transaksi modal (saham) pada perusahaan anak akan mempengaruhi secara tidak langsung pada bagian pemilikan perusahaan induk. Pengeluaran saham-saham baru (emisi saham) oleh perusahaan anak akan mengakibatkan berkurangnya hak-hak pemilikan perusahaan induk apabila atas emisi saham tersebut perusahaan induk tidak berhasil memperoleh saham-saham yang baru tersebut sama dengan prosentase pemilikannya semula.
Di lain pihak penarikan kembali (pelunasan) sebagian modal saham oleh perusahaan anak pada pemegang saham minoritas akan berakibat kenaikan terhadap prosentase pemilikan saham bagi perusahaan induk. Perubahan hak-hak pemilikan yang disebabkan oleh terjadinya perubahan pada struktur permodalan perusahaan anak, memerlukan perhatian dan analisa khusus dalam rangka penyusunan neraca konsolidasi.

G. Perlakuan akuntansi transaksi lainnya yang mempengaruhi perubahan hak pemilikan.
Transaksi-transaksi saham yang ditarik dari peredaran (treasury stock) pada perusahaan anak, yaitu :
1.  Perusahaan menarik kembali dari peredaran terhadap modal sahamnya, akan tetapi tidak diartikan sebagai pelunasan, melainkan untuk dijual kembali.
2.   Saham-saham yang ditarik dari peredaran biasanya dicatat sesuai dengan harga perolehannya (harga belinya).
3.  Apabila perusahaan induk membeli sebagian besar saham-saham perusahaan anak, dan ada sebagian saham perusahaan anak yang ditarik dari peredaran, maka hak pemilikan perusahaan induk dihitung berdasarkan atas jumlah saham yang beredar. Pada neraca, saham yang ditarik dari peredaran dianggap sebagai modal saham yang dilunasi, sehingga sebesar harga perolehannya harus dikurangkan dari saldo hak-hak para pemegang saham dengan memperhatikan harga(kurs) pada saat mula-mula saham itu dikeluarkan.
4. Apabila penarikan kembali modal saham yang beredar dianggap sebagai pelunasan, maka selisih lebih harga pelunasan diatas nilai nominal (nilai yang ditetapkan) dan agio saham harus dikurangkan dari saldo laba yang ditahan, seakan-akan sebagai deviden likuidasi.
5.    Sebaliknya apabila harga pelunasan dibawah nilai nominal (nilai yang ditetapkan)  dan agio sahamnya, maka diperlukan untuk menghapuskan seluruh jumlah agio saham dan memindahkan sebesar selisihnya pada rekening (elemen) hak-hak para pemegang saham yang lain sebagai modal yang disetor berasal dari pelunasan kembali modal saham.

Senin, 28 April 2014

Laporan Keuangan beserta Rasio Keuangan


PT. ELANG
NERACA
PER 31 DESEMBER 2010

AKTIVA
PASSIVA
Aktiva lancar
Hutang lancar
Kas
Rp   85.000.000,00
Hutang dagang
 Rp   60.000.000,00
Surat berharga/efek
Rp   40.000.000,00
Hutang pajak
 Rp   40.000.000,00
Piutang
Rp   25.000.000,00
Hutang wesel
 Rp   50.000.000,00
Inventory
Rp 120.000.000,00
Hutang perniagaan
 Rp   30.000.000,00
Jumlah Aktiva Lancar
Rp 270.000.000,00
Jumlah Hutang lancar
 Rp 180.000.000,00


Hutang Jangka Panjang

Aktiva tetap

Long term debt
 Rp    50.000.000,00
Mesin
Rp  20.000.000,00
Jumlah Hutang jangka panjang
 Rp    50.000.000,00
Akumulasi penyusutan mesin
Rp     2.000.000,00


Gedung
Rp  70.000.000,00
Modal

Akumulasi penyusutan gedung
Rp     7.000.000,00
Modal sendiri
 Rp 150.000.000,00
Tanah
Rp 149.000.000,00
Laba ditahan
 Rp  120.000.000,00
Jumlah Aktiva Tetap
Rp 230.000.000,00
Jumlah Modal
 Rp  270.000.000,00
Jumlah Aktiva
Rp 500.000.000,00
Jumlah Hutang dan Modal
 Rp  500.000.000,00


PT. ELANG

LAPORAN RUGI LABA

PERIODE 31 DESEMBER 2010



Penjualan
 Rp     750.000.000,00
Harga pokok penjualan
 Rp     200.000.000,00 -
        Laba Bruto
 Rp   950.000.000,00
Biaya administrasi
 Rp        10.000.000,00 -
        EBIT (laba usaha)
 Rp   940.000.000,00
Bunga Obligasi 10%
 Rp         5.000.000,00 -
        EBT (laba sebelum pajak)
 Rp   935.000.000,00
Pajak 12%
 Rp      112.200.000,00 -
        EAT (laba setelah pajak)
 Rp   822.800.000,00






Berdasarkan laporan keuangan tersebut, akan dapat dihitung berbagai rasio sebagai berikut :

a.  Liquidity Ratio 

·         Current Ratio =   Aktiva Lancar
                    Hutang Lancar

=   Rp 270.000.000   = 1,5% atau 0.015x
               Rp  180.000.000

Kemampuan untuk membayar hutang yang segera harus dipenuhi dengan aktiva lancar. Setiap hutang Lancar Rp 1 dijamin oleh oleh aktiva lancar Rp 0,015

·         Quick Ratio =  Aktiva Lancar – Persediaan
                         Hutang Lancar

            =  Rp 270.000.000 – 120.000.000   = 0.83% atau 0.0083x
                            Rp 180.000.000

Kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban lancar dengan aktiva perusahaan  adalah setiap Rp 1 hutang lancar dijamin dengan Rp 0,0083 aktiva lancar yang likuid atau dalam bentuk uang bukan persediaan barang dagangan

·         Cash Ratio =  Cash + Surat Berharga
                     Hutang Lancar

= Rp 85.000.000 + Rp 40.000.000 = 0,694% atau 0,00694x
  Rp 180.000.000

Kemampuan membayar utang dengan segara yang harus dipenuhi  dengan kas yang tersedia dalam perusahaan dan efek yang segera dapat diuangkan. Setiap hutang Lancar  Rp1,00 dijamin oleh kas  dan efek Rp 0,00694

b.  Solvabilitas Ratio

·         Rasio modal dengan Aktiva  =  MODAL SENDIRI
                                    TOTAL AKTIVA
=  Rp 150.000.000  = 0,3 atau 30%
    Rp 500.000.000

Artinya setiap Rp 1 total aktiva dibiayai dengan Rp. 0,3 modal sendiri.
·         Rasio Modal dengan Aktiva Tetap = MODAL SENDIRI
                                          AKTIVA TETAP
=  Rp 150.000.000   =     0,652 atau 65,2%
   Rp 230.000.000

Artinya  aktiva tetap dibiayai dengan 65,2 % modal sendiri.

·         Rasio Aktiva Tetap dengan Hutang Jangka Panjang 
=          AKTIVA TETAP
   HUTANG JANGKA PANJANG
       
=   Rp 230.000.000  = 4,6 atau 460%
     Rp   50.000.000

Artinya Kemampuan perusahaan untuk memperoleh pinjaman jangka panjang dengan jaminan aktiva aktiva tetap sebesar 460%

c.   Rentabilitas Ratio

·         Rate of Return on Net Worth =      EAT
            Modal sendiri
     = Rp 822.800.000 = Rp 5,485 atau 548,5%
        Rp 150.000.000

Artinya Rp 1 modal sendiri menghasilkan laba bersih Rp 5,485
·         Net Profit Margin =    EAT
                    Penjualan
    = Rp 822.800.000 = Rp 1,097 atau 109,7%
         Rp 750.000.000

Artinya Rp 1 penjualan menghasilkan Laba bersih sebanyak Rp 1,097
·         Operating Ratio =Harga Pokok Penjualan + Biaya Administrasi
                                          Penjualan

= Rp 200.000.000 + Rp 10.000.000 = Rp 0,28 atau 28%
                   Rp 750.000.000 

Artinya Setiap Rp 1 penjualan menghasilkan Rp 0,28

·         Earning Power =      EBIT
                    Jumlah aktiva

=  Rp 940.000.000 = Rp 1,88 atau 188 %
    Rp 500.000.000

Artinya setiap Rp 1 Total Aktiva , menghasilkan Laba Usaha sebesar Rp 1,88

·         Gross Profit Margin = Laba Kotor
                           Penjualan

= Rp 950.000.000 = 1,27%
   Rp 750.000.000

Artinya Perusahaan dapat mencapai laba kotor 1,27% dari penjualannya.